| 592 0

Depresi pada Kucing, Penyebab, Tanda, dan Solusinya

Depresi pada kucing

Bukan hanya terjadi pada manusia, kucing pun juga bisa mengalami depresi. Bahkan sebenarnya, kucing dapat dengan cukup mudah mengalami depresi.

Hal ini disebabkan karena kucing pada dasarnya sangat perseptif terhadap perubahan (yang dalam bahasa zaman sekarang, bisa juga disebut ‘mudah baper’). Beberapa hal kecil yang membuat kucing jadi bosan, stres, atau tidak nyaman, bisa benar-benar menyebabkan si kucing jadi depresi.

Beberapa penyebab depresi pada kucing                                              

Karena benar-benar banyak alasan yang bisa menyebabkan kucing depresi, menyebutkannya satu demi satu penyebabnya adalah hal yang mustahil dilakukan. Sebagai contoh, kucing bisa mengalami depresi jika kita mengganti makanannya, dan ia tidak menyukainya.

Oleh karena itu, beberapa penyebab depresi yang akan dibahas kali ini hanyalah beberapa contoh umum yang sering menyebabkan kucing jadi depresi.

Rasa sakit. Kucing dikenal sangat ahli menyembunyikan rasa sakitnya. Bisa saja, meskipun dari luar ia terlihat sehat dan normal, di dalam si kucing sebenarnya merasakan rasa tidak nyaman yang luar biasa.

Rasa tidak nyaman ini pun jika dibiarkan begitu saja akan turut mempengaruhi mental si kucing menjadi depresi. Keadaan ini (depresi karena rasa sakit) sering dialami oleh kucing yang sudah lanjut usia, di mana radang sendi, merupakan masalah yang memberi rasa sakit luar biasa kepada kucing, dan sering menyerang kucing yang sudah cukup tua.

Perubahan kebiasaan. Mengubah kebiasaan kucing, terutama jika dilakukan tiba-tiba, bisa menyebabkan kucing menjadi depresi. Beberapa contoh perubahan kebiasaan yang bisa menyebabkan kucing depresi antara lain, perubahan jenis makanan, perubahan tempat buang airnya, hilangnya mainan favoritnya, dan lain-lain.

Kurang interaksi. Meskipun terkesan hobi menyendiri, kucing sebenarnya sangat memerlukan perhatian darimu. Jika kamu mengabaikannya, tidak mengajaknya bermain, dan tidak berinteraksi dengannya, maka hal ini akan membuat si kucing jadi depresi.

Kehilangan temannya. Kucing benar-benar bisa merasa sedih dan depresi ketika ia kehilangan temannya, entah itu kucing atau manusia. Contohnya, jika sebelumnya di rumah ada ibu, ayah, dan anak, lalu kemudian si anak merantau untuk kuliah jauh dari rumah, maka si kucing akan merasa kehilangan, sedih, dan kemudian menjadi depresi.

Berbagai tanda kucing mengalami depresi

Ketika kucing mengalami depresi, ada banyak tanda-tanda atau perubahan perilaku yang ia tunjukkan. Beberapa contohnya antara lain:

Tidak mau makan atau makan dengan berlebihan. Kedua kebiasaan yang berlawanan ini sering menjadi salah satu cara kucing mengekspresikan perasaan depresinya. Yang perlu diperhatikan gejala depresi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika kucing tidak mendapat asupan selama 24-48 jam, maka ia bisa terserang hepatic lipidosis, sebuah kondisi yang bisa membahayakan nyawa si kucing.

Tidak men-grooming atau terlalu men-grooming tubuhnya. Kucing adalah makhluk pembersih yang sering melakukan grooming (menjilati tubuhnya) sendiri. Namun, jika ia tidak melakukan grooming, sehingga bulu-bulunya tampak kusut dan kusam tidak terawat, maka hal ini bisa jadi disebabkan karena ia depresi.

Begitu pula jika kucing terlalu banyak melakukan grooming, sehingga beberapa bagian tubuhnya menjadi botak atau luka, yang artinya si kucing juga sedang mengalami depresi.

Bersembunyi dan menghindari perhatian kita. Salah satu respons kucing untuk menyesuaikan diri ketika ia takut, stres, dan depresi adalah dengan menghindari interaksi dengan orang lain, dan lebih memilih bersembunyi, dengan harapan agar hal ini dapat membantunya menenangkan dirinya.

Perilaku agresif. Hal ini bisa memiliki banyak bentuk, mulai dari tidak mau bersikap ramah, menggigit atau mencakar, atau bisa pula dalam bentuk desisan yang kucing keluarkan ketika didekati.

Banyak mengeong. Kucing yang sedang mengalami depresi juga sering kali jauh lebih cerewet daripada biasanya. Mereka akan banyak mengeong-ngeong, yang terkadang meongan kucing ini terdengar sangat keras dan terdengar seakan-akan ia sedang kesakitan.

Buang air sembarangan. Ketika kucing depresi, salah satu tanda yang juga sering mereka tunjukkan adalah buang air sembarangan. Hal ini dapat terjadi, meskipun si kucing sudah sangat terlatih sebelumnya.

Solusi mengatasi depresi pada kucing

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah depresi yang kucing alami.

Pertama dengan menghilangkan faktor penyebab si kucing menjadi depresi. Misalnya, jika si kucing depresi karena perubahan mendadak yang kamu lakukan, maka hentikan perubahan yang mendadak tersebut, dan kembali ke hal-hal yang sudah jadi kebiasaan si kucing.

Lalu, mulailah secara perlahan-lahan ubah kebiasaan lama tersebut. Misalnya, dalam hal makanan, daripada langsung mengganti menu makanannya, sebaiknya ubahlah secara perlahan. Minggu pertama ¾ makanan lama, ¼ makanan baru. Minggu kedua ½ makanan lama, ½ makanan baru, dan terus secara perlahan hingga kebiasaan lamanya benar-benar terganti.

Cara kedua adalah dengan rutin mengajaknya berinteraksi. Hal ini dapat menenangkan, membuat si kucing bahagia, dan melupakan hal-hal yang membuat si kucing depresi. Selain perhatian ekstra, kamu juga dapat memberinya mainan atau makanan favoritnya, untuk membantunya lepas dari depresi dan jadi lebih bahagia.

Untuk kasus yang berat, depresi pada kucing juga dapat dikurangi dengan menggunakan obat atau produk khusus. Tentunya solusi ini hanya bisa dipilih jika sudah disarankan atau direkomendasikan oleh dokter hewan kepercayaanmu.