| 320 0

Bisakah Kucing Menjadi Bagian dari Service Animal?

Service Animal

“Service dog” atau anjing penolong memang sudah mulai umum dikenal oleh masyarakat luas. Sudah banyak anjing yang dilatih untuk membantu hidup orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus.

Tetapi bagaimana dengan kucing, apakah mereka bisa menjadi hewan penolong bagi manusia?

Bukan “service animal,” tetapi “emotional support animal”

Sayangnya, deskripsi dari service animal atau hewan penolong, adalah hewan-hewan yang dilatih untuk membantu hidup orang-orang dengan kebutuhan khusus secara fisik, misalnya membantu orang yang tidak dapat melihat atau tidak dapat mendengar agar lebih sadar terhadap sekitarnya. Berdasarkan deskripsi ini, sangat kecil kemungkinan kucing memiliki kemampuan fisik yang cukup untuk melaksanakan peran yang dibebankan kepada service animal ini.

Namun, hal ini bukan berarti kucing tidak dapat membantu hidup manusia. Meski kecil kemungkinan menjadi seekor service animal, kucing memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk menjadi seekor emosional support animal, yang “mungkin” jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “hewan pemberi dukungan emosional” dan juga sebagai hewan terapis.

Kucing sebagai emotional support animal dan hewan terapis

Pada dasarnya, emotional supports animal (ESA) dan hewan terapis memiliki fungsi yang sama, yaitu memberikan bantuan yang sifatnya emosional kepada “kliennya,” yang membedakan hanyalah bantuan seekor hewan terapis hanya bersifat jangka pendek (layaknya berkunjung ke terapis), sedangkan ESA sifatnya lebih jangka panjang, di mana hewan ESA akan hidup bersama orang yang membutuhkan, layaknya hewan peliharaan seperti umumnya.

Kemudian bagaimanakah kucing bisa memenuhi peran-peran ini? Ternyata, kelucuan, ketenangan, kemanjaan, dan dengkuran yang mereka milikilah, yang berperan dalam memberi dukungan emosional kepada yang membutuhkannya.

Perilaku-perilaku khas kucing di atas berdasarkan penelitian memiliki peran besar dalam memberikan kebahagiaan dan ketenangan kepada mental seseorang, terutama bagi mereka yang pada dasarnya menyukai hewan berbulu ini.

Oleh karena itu, kucing sering dianggap menjadi salah satu alat terapis yang cukup ampuh dalam masalah stres, depresi, rasa cemas berlebihan yang dialami seseorang, obsessive compulsive disorder, post traumatic stress disorder, bipolar disorder, dan masalah-masalah mental lainnya.

Beberapa pendapat bahkan menyatakan bahwa frekuensi suara dengkuran yang dimiliki oleh kucing dapat memicu tubuh manusia untuk memproduksi hormon endorphin, yang menyebabkan munculnya rasa bahagia pada diri seseorang.

Lebih dari sekedar dukungan emosional, beberapa kasus nyata juga menunjukkan bahwa kucing dapat menjadi alat bantu yang baik bagi seorang penderita autisme, agar ia dapat bersosialisasi dengan lebih baik lagi.