| 1002 0

Kebiasaan Salah dalam Memelihara Hewan yang Bernama Anthropomorphizing

Apakah itu anthropomorphizing? Secara sederhana, ini adalah perilaku memanusiakan hewan, dengan cara menyamakan berbagai sifat, sikap, emosi, pemahaman, dan atribut yang dimiliki manusia kepada hewan.

Tunggu! Bukankah dengan cara ini berarti manusia bisa memahami mereka dan bersikap lebih baik kepada hewan, khususnya peliharaannya?

Jawabannya tidak, kita bisa bersikap jauh lebih baik ke hewan peliharaan tanpa melakukan ini. Bahkan sebenarnya, perilaku ini memiliki efek negatif ke hewan peliharaan Anda.

Berikut penjelasan lebih dalamnya!

Bentuk-bentuk anthropomorphizing

Para pemilik hewan sering kali tidak sadar ketika ia sudah melakukan anthropomorphizing kepada anjing atau kucingnya. Perilaku ini terkadang sudah mendarah daging dan dianggap normal oleh banyak pemelihara hewan.

Beberapa bentuk anthropomorphizing adalah hal-hal yang mudah diidentifikasi dan disadari kesalahannya, seperti:

– memakaikan pakaian ke hewan peliharaan

– berbicara kepada hewan peliharaan (Anda menjawab ketika ia mengeong atau menggonggong)

– menganggap hewan peliharaan sebagai “anak”

Oke! Poin terakhir memang bisa dianggap sebagai istilah, namun tidak sedikit orang-orang yang benar-benar menganggap peliharaan mereka sebagai “anak” di luar sana.

Beberapa bentuk anthropomorphizing lainnya hadir dalam bentuk yang sering tidak disadari dan dianggap sebagai hal yang wajar, seperti:

– mengartikan perilaku hewan yang merusak barang-barang sebagai bentuk ekspresi kemarahannya atau caranya meminta perhatian Anda

– menganggap hewan peliharaan merasa bersalah ketika ia menunjukkan suatu ekspresi memelas, setelah melakukan kesalahan.

– menggendong hewan layaknya menggendong anak

– memeluk hewan sebagai bentuk kasih sayang.

– Anda menganggap hewan peliharaan Anda cemburu ketika Anda memberi perhatian ke hewan lain.

– memberikan makanan manusia kepada hewan dengan anggapan apa yang baik untuk manusia juga baik untuknya.

Contoh-contoh di atas hanyalah contoh kecil begitu banyaknya perilaku salah yang kita anggap wajar ketika memelihara hewan.

Akal vs insting

Manusia lahir dengan akal, di mana dengan akal, kita bisa memiliki perasaan, memiliki pemahaman, menciptakan hubungan sebab-akibat, serta mendefinisikan “benar” dan “salah,” Di sisi lain, hewan tidak memiliki akal, mereka memiliki insting sebagai gantinya, di mana insting bekerja dengan cara yang jauh berbeda dari akal.

Insting bekerja kepada hewan dengan cara mendorongnya melakukan hal-hal yang ia anggap baik untuk fisik dan mentalnya. Insting hewan tidak bisa membuat mereka merasakan perasaan seperti yang manusia rasakan (contohnya sedih dan bahagia), memahami sesuatu, menciptakan hubungan sebab-akibat, serta mendefinisikan “benar dan “salah.”

Anthropomorphizing terjadi ketika Anda memaksakan akal kepada insting hewan.

Contohnya ketika anjing memberantakan rumah atau merusak suatu barang, Anda menganggap bahwa ia sedang marah atau meminta perhatian. Padahal kenyataannya, tindakan ini adalah untuk menghabiskan energi berlebih di dirinya, agar fisiknya tetap fit dan mentalnya menjadi lebih tenang.

Contoh lainnya menambahkan atribut nakal ke kucing ketika ia menggaruk-garuk perabot. Padahal hal ini adalah murni dorongan insting kucing agar tubuhnya tetap sehat.