| 4253 0

Drh. Chevy Wenno, Cerita Dokter Hewan Mengenai Perilaku Manusia

Ternyata masalah yang diderita hewan banyak yang bersumber dari perilaku manusia. Hal inilah yang dirasakan oleh drh. Chevy Wenno, yang rela meluangkan waktu berharganya untuk duduk bersama Paws Union dan membagikan ceritanya sebagai seorang dokter hewan.

Berawal dari penganiayaan

Menjadi seorang dokter hewan memang menjadi impian Chevy Wenno sejak ia masih kecil, dan memang ia berhasil mencapai impiannya tadi. Tapi siapa sangka, ternyata impian ini berawal dari sebuah pengalaman yang kurang menyenangkan.

Chevy menceritakan sewaktu dirinya dan keluarga masih tinggal di Banten, ia mempunyai seekor anjing peliharaan yang sangat akrab dengannya. Tetapi suatu hari, ia menemukan anjing tersebut terkapar di jalanan dengan luka bekas tikaman benda tajam di lehernya.

Saya sama sekali tidak tahu siapa yang melakukannya. Zaman dahulu di tempat saya tinggal, orang-orang lebih suka menggunakan cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Manusia yang sama dengan mereka saja bisa diadili dengan cara kekerasan bila tidak menyukainya. Apalagi hewan yang masih hanya dianggap pelengkap,” ujar Chevy.

Bersama keluarganya, saat itu ia langsung membawa anjingnya ke rumah sakit hewan terdekat. Inilah kali pertama Chevy mengunjungi suatu tempat bernama rumah sakit hewan, dan di sana ia melihat beraneka macam hewan yang ada. Suasana tersebut tiba–tiba langsung membuatnya jatuh cinta dan ingin menjadi bagian di dalamnya.

Mulai dari situ, dalam hati saya langsung bilang harus menjadi dokter hewan dan bisa membantu mereka,” ucapnya.

Masalah utama hewan peliharaan: manusia

Setelah menjalani profesi dokter hewan, Chevy pun menemukan sebuah ironi, yaitu masalah utama yang diderita oleh hewan ternyata karena kurangnya kepedulian pemilik terhadap perawatan dan kesehatan hewan. Hal ini seringkali juga berakibat pada penelantaran.

Selain itu Chevy berpendapat bahwa masih banyak masyarakat yang memelihara hewan hanya untuk dibanggakan, dan bukan karena cinta. Pemilik hewan pun sering tidak sadar bahwa tidak semua hewan cocok untuk hidup di suatu lingkungan, namun demi gengsi, ketidakcocokan itu pun diabaikan.

Seperti sekarang sedang trend-nya anjing alaskan malamute yang berperawakan mirip siberian husky. Padahal jenis anjing tersebut tidak cocok dengan iklim Indonesia karena badannya yang besar dan berbulu tebal dan panjang. Ia lebih cocok tinggal di negara yang mempunyai empat musim dan memiliki musim dingin yang lebih panjang,” ucap Chevy.

Ketidakcocokan tadi pun menyebabkan berbagai masalah dan penyakit untuk anjing. Namun ketika ingin membawanya ke dokter hewan, mereka malah perhitungan. Melihat kondisi anjingnya sudah tidak ideal lagi, akhirnya banyak anjing yang dibuang dan ditelantarkan.

Sekarang anjing yang dibuang bukan hanya anjing kampung, tetapi banyak juga anjing ras. Itu yang membuat saya sedih memelihara bukan karena sayang, tetapi karena gengsi,” ujar nya.