| 653 0

New Jersey Menentang Pemutusan Kuku Kucing

Membahas persoalan tentang hewan berbulu menggemaskan satu ini seakan tidak pernah ada habisnya. Mulai dari sebatas tingkah laku yang menggemaskan ataupun tips-tips seputar menjaga kesehatan dan perawatannnya. Perawakannya yang berbeda-beda dari setiap jenisnya pun juga selalu jadi ulasan yang menarik untuk diperbincangkan. Tapi tahukah Anda ada topik panas yang sedang banyak dibahas oleh para catlovers?

Topik tersebut ternyata sedang memperbincangkan tentang beberapa negara yang melarang pemutusan (declawing) kuku kucing karena dianggap melanggar norma makhluk hidup. Salah satu yang menentang aksi declawing ini ialah negara bagian di Amerika Serikat yakni New Jersey.

Pada 14 November 2016, badan legislatif New Jersey di Garden State sudah menyepakati RUU mengenai perseorangan, termasuk dokter hewan untuk melarang declawing. Apabila ada yang terbukti melanggar, akan dikenakan pidana atas tuduhan melakukan tindak kekejaman kepada hewan. Hukuman atas pidana ini pun tidak main-main, bila terbukti bersalah akan dikenakan denda sebesar $1.000 dan 6 bulan menjalani hidup di balik jeruji.

Menurut Linda Rosenthal, salah satu anggota pembentuk RUU menjelaskan bahwa, manusia atau kelompok  yang tidak menghargai dan menghormati integritas dari hewan  juga tubuhnya, termasuk dalam kategori tindak kriminal.

“Namun sayangnya hingga saat ini prosedur pemutusan kuku kucing ataupun hewan lainnya masih sering dilakukan di banyak tempat. Ini menjadi alasan kami agar membuatnya menjadi ilegal” ucap Linda.

Seperti dilansir dalam situs The Humane Society, masih banyak dari kita melakukan pemutusan kuku kucing dengan alasan menghindari cakarannya yang dapat menyebabkan luka atau kerusakan perabotan rumah tangga. Padahal kenyataannya, perilaku ini ternyata menyebabkan efek samping yang berbahaya bagi kucing seperti kerusakan sel syaraf dan tulang taji.

“Pemutusan kuku kucing yang menggunakan gunting kuku ternyata sama saja jika memotong kuku kita hingga habis seluruh kuku-nya mencapai ujung jari” tambah The Humane Society.

Tentunya, dalam setiap peraturan yang dibuat pastinya selalau mengundang pro-kontra. Salah satunya oleh Jim Nelson, dokter hewan yang juga berdomisili di New Jersey.yang diwawancarai oleh ABC6 situs berita asal Philadelphia. Menurutnya pemutusan kuku kucing tidak harus masuk ke dalam tindak kekejaman, asalkan prosedurnya dilakukan secara benar dan profesional. Kemudian ia juga menjelaskan bahwa rasa sakit pada pemotongan kuku kucing jauh lebih rendah dibandingkan spaying atau strelisasi.

“Saya percaya bahwa prosedur pemutusan kuku kucing yang benar dan hati-hati dapat menghentikan kebiasaan kucing yang mencakar-cakar perabotan di rumah dibanding dengan diberlakukan euthanasia kepada kucing tersebut,” ujar Jim kepada ABC6.

Tetapi, banyak pula dokter hewan yang mendukung akan RUU tersebut. Mereka secara lantang mencekal adanya prosedur pemutusan kuku kucing, karena hal tersebut dapat menganggu kesehatan dan tidak manusiawi. Salah satunya yang setuju akan RUU ini ialah Eileen Jefferson, dokter hewan yang berbasis di New York.

“Aktifitas ini merupakan prosedur yang sangat menodai integritas hewan, terutama kucing karena sangat tidak manusiawi,” ujar Eileen kepada The Associated Press.

Berdasarkan ketiga pendapat yang sudah disampaikan, apakah Anda serta catlovers lainnya termasuk yang pro atau kontra mengenai RUU tersebut?