| 2008 0

Fanny Wiriaatmadja, Sang Pembela Hak Satwa

fanny wiriaatmadja

Ditemui di sela-sela kesibukannya sebagai lawyer, ibu dari tiga anak ini berbagi pengalamannya tentang kecintaannya pada satwa, khususnya anjing dan kucing. Layaknya kawan lama yang baru bertemu kembali, Fanny dengan ramah langsung bercerita dengan antusias tanpa ada jarak, tentang apa yang diperjuangkannya.

Kecintaan Fanny pada satwa sudah dimulai sejak menginjak usia dini. Sosok ayahnya-lah yang berperan besar mengenalkan dunia ini kepadanya. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan kucing-kucing yang dipelihara oleh ayahnya. Berjalannya waktu, Fanny merasa ada ikatan spesial antara dirinya dengan hewan peliharaan ditambah banyak membaca dan melihat, rasa sayang tersebut semakin tebal.

Aku berterima kasih kepada keluargaku, karena memberi ruang untuk berekspresi. Banyak bukti bahwa anak-anak yang orang tuanya ignorance terhadap perkembangan anak untuk berinteraksi dengan satwa, akhirnya berkembang menjadi orang yang tidak peduli,” ucapnya sambil menikmati kopi hangatnya.

Fanny wiriaatmadja

Sejak bergerilya secara sendiri sampai memutuskan untuk mendirikan organisasi Garda Satwa, ia merasakan tantangan terbesarnya adalah ketidakpedulian. Ia terkadang masih menemukan beberapa kasus yang menganggap bahwa satwa itu adalah benda yang tidak dapat berpikir, berbicara, dan memiliki perasaan serta bukan sesuatu yang patut diperjuangkan haknya.

Fanny pun juga mengkorelasikannya dengan sejarah. Memang jaman dahulu satwa hanya dijadikan sebagai bahan makanan, alat transportasi, atau pun pakaian. Tetapi, menurutnya di jaman saat ini, yang sudah banyak orang terdidik dan akses informasi mudah dengan harapan pikirannya maju serta empatinya terasah, justru lebih sadis dibanding sebelumnya.

Manusia kini tahu bahwa satwa bisa dijadikan sebagai sumber uang dan gengsi, dari sanalah maka muncul eksploitasi. Akhirnya manusia semakin apatis bahwa satwa pun memiliki nyawa, hak, dan perasaan,” ujar Fanny.

Baginya, lifestyle-lah yang menetapkan standar-standar identitas tersebut. Bahwa dapat dikatakan sebagai orang yang berstatus sosial tinggi apabila sudah memelihara anjing berjenis Golden Retriever atau Pit Bull atau memelihara kucing dengan harga belasan, bahkan puluhan juta rupiah.

Selain vokal dalam menyampaikan hak-hak satwa peliharaan seperti anjing dan kucing, ia juga menyuarakan bahwa satwa merupakan penopang hidup alam dan manusia. Alam, satwa, dan manusia adalah tiga hal yang saling berkaitan.

Ada tumbuhan yang membutuhkan satwa untuk penyerbukan dan lainnya. Manusia juga membutuhkan satwa dalam banyak hal. Begitu pun satwa juga membutuhkan alam. Bayangkan bila kita menindasi salah satunya, contoh hewan yang dekat dengan kita seperti anjing dan kucing pastinya nanti kita akan merasakan efeknya,” ucap ibu dari tiga anak tersebut.

Fanny Wiriaatmadja, yang juga aktif sebagai lawyer ini mengatakan bahwa satwa punya fungsi tersendiri di alam. Mereka hadir bukan sebagai pelengkap, melainkan seiring dengan manusia termasuk kucing dan anjing.

Janganlah kita merasa manusia sebagai makhluk yang paling istimewa dan hebat, tetapi tetap jadi pribadi yang sederhana dan menjaga keseimbangan alam salah satunya dengan bertindak semena-mena pada satwa yang paling dekat dengan kita seperti anjing dan kucing,” tambah Fanny.